“Perkenalan” dengan Kopi

Dulu saya ga suka kopi. Pahit. Ada ampasnya pula, yang suka kebawa pas minum. Ga enak lah pokoknya. Mungkin ketidaksukaan saya ini karena perkenalan pertama saya dengan kopi adalah dengan kopi tubruk. Kalo dulu perkenalan pertamanya sama Indocafe Cappuccino mungkin ceritanya akan berbeda 😀

*note: ini bukan iklan, tapi klo ada yg mw endorse jg gpp :p

Singkat cerita, ketidaksukaan saya terhadap kopi berlanjut. Tapi bukan berarti saya muntah-muntah klo ketemu kopi. Nggak. Masih minum. Kadang-kadang. Tapi klo disuruh pilih teh, kopi atw coklat panas, saya pilih yang ketiga.

Tapi kemudian semua berubah setelah negara api menyerang mulai berkawan dengan penggemar kopi. Juga karena satu subdit di kantor yang ngurusin kopi. Jadilah mulai ter-shibghoh dengan kopi dan perkopian.

Mulailah mengenal istilah ‘kopi asli’ dan ‘kopi jagung’. Mulai pula mengenal istilah specialty coffee, beda arabica vs robusta, kemudian menyaksikan pula teman kantor menyeduh kopi pake metode drip.

Kemudian mulai juga terpengaruhi oleh perkataan-perkataan seperti:

“kopi asli itu ga bikin maag”

atau perkataan:

“mending beli kopi biji daripada bubuk, soalnya klo bubuk aromanya cepat hilang”

juga yang paling bikin penasaran:

“besok klo ke sini gw ajak minum kopi enak ga pake gula ga pahit”

JRENGG…

Mulailah senapsaran trus nyobain beli kopi bubuk. Toraja dan Aceh Gayo pernah dibeli. Hasilnya… diseneweni bini. Ibarat proyek, itu kopi mangkrak di lemari. Dibuka, diseduh, diicip, trus si kopi mojok lagi di sudut lemari dan meja makan. Dah beli teko saringan (di kemudian hari baru tau namanya french press) biar ga minum ampas, masih juga itu kopi mojok. Nyobain kopi terkenal ternyata ga bisa membuat saya suka sama kopi.

Kemudian datanglah kesempatan untuk mencoba keabsahan quote nomor 2 di atas. Ada pameran di kantor, ada yang jual kopi biji (roasted bean). Kebetulan ada teman yang nitip jadi sekalian aja beli buat diri sendiri.

Sampe rumah masih disenewenin bini. ^_^’

Kopi biji gimana nyeduhnya? Ya, digiling dulu lah. Beli deh grinder yang kecil dan ga mahal. Manual hand grinder. Seperti gambar di bawah.

0b1a3091-f750-4b96-8652-2fee19badc0f

hand manual grinder

Setelah coba icip-icip, ga ada yang istimewa. Ya masih kopi. Tapi istri kemudian jadi ikut-ikutan nebeng ngopi. Tiap kali saya bikin, pasti nagih minta dibikinin juga. Plus gula. Yang banyak 😀

Kemudian saya ajak main ke kedai kopi. Nyobain caffe latte. Hasilnya, doi mulai suka kopi tanpa gula 😀

Keberadaan grinder di rumah, plus french press dan jaringan internet membuat saya tertarik untuk nyoba-nyoba menggiling kopi dengan tingkat kehalusan yang berbeda. Juga suhu air dan waktu penyeduhan. Hasilnya? Yaah… bisa dibilang ada perbedaan. Menurut lidah yang awam ini, rasa asam dan pahit intensitasnya bisa berbeda-beda tergantung proses bikinnya. Ini menarik…

Pengalaman dengan biji kopi ini memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan dengan membeli sudah jadi kopi bubuk. Bisa eksperimen macem-macem. Ini menarik.

Inilah sekelumit cerita perkenalan saya dengan kopi. Apakah saya sudah jadi coffee addict atw coffee lover? Nope. Kayanya sih belum. Belum sampai segitunya 🙂

Iklan

Sebuah “Kutukan” Bernama JAKARTA

Berangkat macet, pulang macet. Gitu terus saban hari. Hampir 40% penjualan mobil berada di Jakarta & Jawa Barat. 

Ingin pergi dari Jakarta & lepas dari kemacetan? Oneself can’t resist this temptation: 70% perputaran uang di Indonesia berada di Jakarta.

Selama pusat ekonomi, bisnis & politik berada di Jakarta, kutukan itu sulit terangkat.

Berakhirnya era blog, milis dan forum internet?

Last post: February 27, 2014

Itulah statistik blog ini. Parahnya lagi selama tahun 2014, hanya tiga kali (sebelum tulisan ini) saya bikin postingan di blog ini: 2 tulisan dan 1 postingan ‘Path’. Klo dipikir-pikir memang semenjak era socmed, lebih sering ‘nyampah’ di sana (walau sebenarnya saya juga bukan blogger aktif).

Begitu juga dengan 3 milis ‘tersisa’ yang masih saya ikuti. Kondisinya hidup segan mati tak mau. Lagi-lagi semenjak era socmed yang memfasilitasi pembuatan group, juga fasilitas group dari layanan mobile messaging macam BBM, WA & Line, membuat aktivitas milis pindah ke platform yang berbeda. Trend yang serupa juga saya amati terjadi di forum-forum internet. Tingkat keaktifan berkurang karena group forum/komunitas tersebut pindah ke facebook.

Tapi pengamatan pribadi saya tidak bisa jadi patokan. Masih ada koq blog-blog yang aktif, walau juga tidak bisa dipungkiri banyak blog yang ‘hibernasi’. Masih banyak forum-forum yang aktif, walau tak sedikit yang pindah kamar ke facebook. Tapi, klo berdasarkan tulisan ini dan itu, tak bisa dipungkiri: era blog sudah berakhir.

Blogging kini tak lagi menjadi tren sebagaimana 5-10 tahun yang lalu. Kopdar blogger tak lagi se-intens dulu (walau saya juga ga pernah ikutan :p ). Buku-buku mengenai kiat-kiat mendapat uang dari blog kini tak lagi menghiasi rak-rak di toko buku. Mungkin masih ada, tapi di rak bagian buku lama atau obral murah.

Tapi apakah berakhirnya era blog membuat orang-orang berhenti menulis di blog atau sekedar surfing? Mungkin iya bagi banyak orang, tapi bagi saya ngapdet blog ini adalah ‘rekreasi’ tersendiri. ‘Rekreasi’ dari facebook sudah terlalu padat dan twitter terlalu riuh atau path yang mulai terasa biasa-biasa aja.

Nyoblos atau GOLPUT??

Ikut nimbrung di topik yg banyak menghiasi timeline fb saya ah… PEMILU!

Sebagian mengajak utk mgunakan hak pilih, sebagian lainnya memilih utk GOLPUT. Mana yg benar, saya tdk berhak mberikan penilain benar/salah. Mungkin pilihan GOLPUT adalah pilihan yg indah & menyenangkan bagi mereka yg sdh muak dgn perilaku orang2 yg ada di Senayan. Temen2 yg milih GOLPUT mungkin bisa merasa terbebas dr rasa menyesal ketika yg dipilih ternyata tdk sesuai harapan, tapi… benarkah ini merupakan pilihan terbaik?
Benarkah memilih utk GOLPUT bisa menyelesaikan permasalahan bangsa & negara?

Saya yakin, teman2 pasti berpikiran utk menyanggah: “emangnya dgn memilih jg bisa menyelesaikan permasalahan? emangnya ikut pemilu jg merupakan pilihan terbaik?”

Jawabannya: saya tidak tahu.

Tidak ada satu pun di antara kita ada yg bisa tahu masa depan akan seperti apa. Apakah dgn mencoblos caleg masa depan akan lebih baik/buruk, ga ada yg tahu. Apakah dgn GOLPUT masa depan akan lebih baik/buruk, jg ga ada yg tahu. Tapi, bukankah mencoba melakukan sesuatu lbh baik daripada tidak melakukan apa2? Bukankah mencoba dan gagal lebih baik daripada gagal mencoba? Bukankah menaruh & meletakkan harapan lebih baik daripada menjadi apatis?

Saya beberapa kali juga sama seperti teman2, tergoda untuk GOLPUT. Tapi saya selalu berpikir ulang, apakah dengan masa bodoh itu akan ada perbaikan ke depan?

Trus klo mw memilih, milih siapa? Caleg2nya gw ga ada yg kenal! Ntar jadi kaya milih kucing dlm karung lagi…

Yak, betul! Makanya kita harus jadi pemilih yg cerdas.

Alhamdulillah saat ini sistem informasi yg dibangun KPU sdh ada perbaikan. Calon pemilih bisa melihat profil caleg2nya via internet (http://dct.kpu.go.id/). Dari situ kita bisa tau profil caleg2 kita.

Ada banyak…!!

Iya, betul. Makanya fokus aja ke dapil kita. Klo seperti Jakarta, tiap dapil ada 6 caleg DPR-RI per partai. Ada 15 partai, berarti ada 90 opsi yg bisa kita pilih. Makan waktu? Iya jelas! Tapi daripada milih kucing dalam karung, hayo!?

Profil yg ada memang tidak serta-merta mencerminkan kualitas calegnya. Profilnya hanya mencakup data pribadi, riwayat pendidikan, pekerjaan, organisasi & penghargaan, tapi bagi saya itu cukup utk MENGELIMINIR mereka yg kurang berkualitas. Misal, dr riwayat pendidikan, klo seorang caleg gelarnya banyak tp dr suatu universitas abal2 yg bisa memberikan gelar apapun asal ada duitnya, jelas itu caleg bisa kita coret dari opsi kita. Kenapa? Ya, karena kemungkinan besar orang seperti itu punya integritas yg rendah. Klo jadi anggota dewan, rentan tergoda oleh harta, tahta, wanita.

Trus, bisa juga dilihat dr riwayat organisasinya. Apakah sang caleg pernah ikut organisasi ‘bermasalah’? Misal, bagi kaum muslim, organisasi yg dinyatakan sesat oleh MUI. Klo iya, coret juga dari opsi pilihan.

Dengan cara ini, setidaknya kita sudah mengerucutkan opsi pilihan kita. Sisa yang ada tinggal dibandingkan, diranking klo perlu, dan pilih deh.

Emang ga mudah dan makan waktu sih.. Tapi mau gimana lagi, drpd pilih kucing dlm karung?

Ah repot! GOLPUT aja dah…!!

Nah, klo dah gitu, itu terserah Anda. Tapi, saya meyakini setiap pilihan itu ada konsekuensinya. Memilih utk nyoblos ada konsekuensinya sendiri, memilih utk GOLPUT jg ada konsekuensinya sendiri, entah apapun itu. Dan kembali kepada pribadi masing2 utk menentukan pilihan.

Oya, btw, koq saya merasa GOLPUT itu adalah salah satu bentuk lari dari masalah ya? Dan bukannya lari dari masalah itu tdk dpt menyelesaikan masalah? CMIIW

Kenapa Orang Genius ‘Tidak Laku’ di Indonesia?

Klo saya perhatikan ada kegalauan di kalangan pelajar/ilmuwan Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri. Khususnya mereka yang berjjibaku di bidang sains & teknologi. Galau apakah ilmu mereka bisa diterapkan di Indonesia. Di sini saya coba bahas dari kacamata economic development (selanjutnya saya sebut EcDev). Saya bukan ahli di bidang EcDev, baru belajar dikit2, jadi klo ada salah mohon maklum & dikoreksi aja.

Ada teori yang menyatakan low income country punya banyak unskilled labor. Middle income country punya banyak capital (modal), dan high income country berlimpah skilled labor. Nah, karakteristik industri yang cocok dikembangkan juga beda2. Labor intensive utk low income country, capital intensive utk mid-income dan knowledge/hi-tech intensive utk high income country. Dosen saya juga bilang negara yg low income ga bisa lompat ke capital atau knowledge intensive jika ingin negaranya maju & berkembang. Kenapa bisa begitu?

Jadi gini, negara yang punya banyak unskilled labor jika menerapkan industri yg capital intensive akan gagal karena akan banyak tenaga kerja yang tidak terserap. Ini bisa menjadi masalah sendiri. Karakteristik industri yg capital intensive itu tidak dapat menyerap banyak tenaga kerja, bukan industri padat karya. Jika suatu negara yang jumlah angkatan kerjanya banyak tapi malah tidak mengembangkan industri padat karya (labor intensive), maka jumlah pengangguran meningkat, masalah sosial merebak, pembangunan terhambat, pertumbuhan ekonomi pun stagnan. Ini yang terjadi di beberapa negara di Afrika. Jepang pada saat awal2 restorasi juga mendorong berdirinya industri padat karya, kemudian secara bertahap mendirikan industri padat modal, hingga akhirnya saat ini menjadi salah satu pusat hi-tech industry.

Bagaimana dengan Indonesia? Negara yang jumlah penduduknya hampir mencapai 1/4 miliar ini sebagian besar angkatan kerjanya adalah unskilled labor (jika kriteria skilled vs unskilled adalah jenjang pendidikan). Bisa dilihat dari angka yang dirilis BPS, tahun 2012 hanya 13% penduduk Indonesia yang dapat melanjutkan hingga perguruan tinggi. Jadi, jika indikator skilled labor adalah mereka yang menempuh pendidikan tinggi, maka 87% penduduk Indonesia masuk kriteria unskilled labor.

Dengan kondisi yang seperti ini, maka kebijakan yang tepat untuk diterapkan di Indonesia adalah mengembangkan industri padat karya yang tidak memerlukan teknologi tinggi. Kenapa saya membahas ini? Karena ini terkait dengan kegalauan mereka yang belajar mati-matian di negeri orang, terpisah jauh dari keluarga, dan bermimpi dapat berkontribusi di tanah air berbekal ilmu sains tingkat tinggi yang mereka dapatkan. Kalau saya boleh ngomong secara gamblang, akan sangat mungkin sekali ilmu yang mereka peroleh belum dapat diterapkan di negeri tercinta.

Terus bagaimana caranya mereka bisa berkontribusi bagi negeri tercinta? Ada 2 cara. Satu, menerapkan ilmu yang diperoleh di industri padat karya atau paling mentok di industri padat modal (capital intensive). Dua, bekerja di luar negeri di hi-tech industry, serap ilmunya, kemudian bikin perusahaan baru di Indonesia.

Ada pengalaman dari Taiwan dalam membangun industrinya. Khususnya machine tool industry (industri alat mesin). Di awal-awal, pendiri industri tersebut adalah mereka yang memiliki pendidikan rendah. Karena demandnya banyak, bermunculan lah perusahaan-perusahaan baru yang kebanyakan hanya mengimitasi produk yang sudah ada. Berjalannya waktu, seleksi alam terjadi. Mereka yang hanya meniru dan tidak melakukan innovasi lambat-laun tersingkir dari persaingan. Saat bersamaan muncullah perusahaan2 baru yang melakukan inovasi-inovasi terhadap produk yang ada. Pendiri-pendirinya adalah yang  tadinya merupakan karyawan di industri alat mesin yang sudah lebih dahulu berdiri. Tapi perusahaan-perusahaan baru ini tidak berkompetisi langsung dengan perusahaan yang sudah ada. Mereka lebih banyak bermain sebagai supplier spare parts atau sebagai sub-kontraktor dari perusahaan2 tersebut.

Oya, sebagai tambahan, di Jepang ternyata struktur industrinya sangat mengandalkan tenaga sub-kontrak. Misal, Toyota. Gak semua spare-parts mobil dibikin Toyota.  Toyota akan me-subkontrak-kan berapa parts ke perusahaan lain yang memang spesialis di bidang tersebut. Misal, rem, kaca, ban, spidometer, dll. Perusahaan macam Nikon & Canon juga mensubkontrakkan beberapa part kepada perusahaan lain (misal, lensa).

Nah, di Indonesia kayanya belum banyak perusahaan2 yang merupakan spesialis di bidang tertentu dan dapat menjadi supplier perusahaan besar. Saya yakin para pelajar Indonesia yang belajar ilmu njelimet di luar negeri dapat berkontribusi di Indonesia dengan cara ini. Membuat lensa kamera/mikroskop itu butuh ilmu & teknologi yang mumpuni, juga untuk membuat part kecil macam roda gerigi di mesin jam. Itu semua adalah part kecil dan kelihatan sepele, tapi proses pembuatannya butuh presisi yang luar biasa. Saya yakin, yang belajar di Jepang, Jerman, US, dll. bisa mengaplikasikan ilmunya dengan cara ini. Timba ilmu & bekerja di negeri orang, serap ilmunya, kumpulkan modan dan aplikasikan di Indonesia. Tapi ini butuh proses, ga bisa buru-buru, butuh bersabar. Toh, kondisi Indonesia saat ini memang lebih cocok untuk industri padat karya. Sembari menunggu Indonesia beralih menjadi pemain utama di indutri padat modal dan padat teknologi (aamiiin…!!), silakan timba ilmu sebanyak-banyaknya di luar negeri, tapi jangan pernah lupakan negeri tercinta.

Nyobain ‘mainan’ baru: #TimeLapse. Diambil dr salah satu sudut d kampus – at 政策研究大学院大学 (National Graduate Institute for Policy Studies)

View on Path

Heboh salju di Timur Tengah

heboh salju di TimTeng…

klo baca portal berita luar negeri, kebanyakan bakalan bilang:
“…first after century…”
“…hadn’t seen for decades…”
“…last saw about 50 years ago…”
http://www.washingtonpost.com/blogs/worldviews/wp/2013/12/12/23-photos-of-the-middle-east-blanketed-in-snow/
http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/middleeast/israel/10516498/Historic-snow-storms-spread-havoc-and-misery-across-the-Middle-East.html

kesimpulan sederhananya, fenomena salju itu adalah fenomena alam yang JARANG terjadi di TimTeng, tapi PERNAH terjadi di masa lampau.

koq bisa turun salju di TimTeng yg panas & kering itu?
ya… bisa aja. coz sebagian wilayah TimTeng itu masuk zona iklim subtropis (klo menurut pbagian wilayah iklim berdasarkan garis lintang) kaya Cina, Jepang & Amerika. Dan lagi pula, fenomena salju ini terjadi saat/setelah badai musim dingin (badai Alexa) menerjang TimTeng.
http://www.huffingtonpost.com/2013/12/13/alexa-middle-east-storm_n_4440774.html

Balik lagi ke pembagian zona iklim, disebabkan -salah satunya- faktor keadaan geografis, jadilah iklim di TimTeng adalah iklim gurun/kering. Tapi, ini tidak mengubah kenyataan bahwa daerah TimTeng jg punya pembagian musim dingin & musim panas seperti negara2 dgn 4 musim. jelasnya silakan berkunjung ke:http://www.mapsofworld.com/world-maps/world-climate-map.html dan http://milasyafaah22.blogspot.jp/p/pembagian-iklim-dunia_30.html.

Kesimpulannya, turunnya salju di TimTeng itu adalah fenomena LANGKA tapi PERNAH TERJADI di masa lampau dan MUNGKIN terulang lagi di masa depan.

Trus, apakah ini pertanda kiamat? saya cuma bisa bilang Wallahu a’lam bishshowab… yang jelas, jazirah Arab tidak akan menjadi hijau & dialiri sungai2 hanya karena turun salju beberapa hari.